Road Trip Mbok Jastra #1 Mari Mengarungi Lautan dengan KMP Legundi

Assalamualaikum,
Ini adalah postingan pertama perjalanan darat (road trip) saya dan keluarga dari Mataram ke Bukittinggi. Perjalanan ini saya beri nama Road Trip Mbok Jastra. Perjalanan Darat Lombok Jawa Sumatra. Menyusuri indahnya Indonesia dari timur ke barat. Ini adalah perjalanan pulang kampung pertama saya sejak berkeluarga. After a decade, mari kita menjelajah. Yippi!

Setelah satu bulan berpetualang mengarungi lautan, menyusuri jalan perkotaan dan pedesaan, keluar masuk hutan dan kebun, kini saatnya berbagi cerita serunya touring naik mobil dengan tiga bocah di dalamnya. Bocah pertama usia tujuh tahun, bocah kedua usia empat tahun dan yang ketiga adalah bayi usia satu tahun tiga bulan saja. Cakep banget kan formasinya. Yuk lanjut baca keseruan saya dan keluarga dalam #RoadTripMbokJastra.

Sebuah kenangan yang tertinggal di Lautan

(23/10/17) Pagi pukul sembilan, saya dan keluarga sudah kick off dari rumah menuju pelabuhan Lembar yang terletak di Lombok Barat. Sebuah kapal besar sudah merapat di dermaga. Terlihat gagah. Legundi, we bridge the nation. Begitu tulisan yang tertulis di dinding luar kapal. Kapal Legundi itu lebih besar jika dibandingkan dengan kapal penyebrangan dari Bali ke Lombok. Ya, tujuannya pun berbeda. Legundi melayani rute Lombok – Surabaya. Jarak tempuhnya juga lebih lama sekitar 21 jam. Sedangkan Bali – Lombok hanya tiga jam saja. Hm…jauh bangetkan bedanya. Eits, tapi ini adalah waktu tempuh normal ya. Di luar acara mengantri untuk merapat di dermaga. Jika pake acara antri atau gangguan cuaca, maka waktu yang dihabiskan di tengah lautan tentunya lebih lama lagi.

Ini adalah pengalaman pertama saya melihat kapal Legundi secara langsung. Biasanya hanya foto saja. Melihat kapal Legundi mengingatkan saya akan kenangan lebih dari satu dekade silam, menyebrangi selat sunda menuju pelabuhan Bakauheni dari pelabuhan Merak, Banten. Kapal yang digunakan kurang lebih sama besarnya dengan kapal Legundi ini.

Ya, dulu menyebrangi selat Sunda menjadi agenda tahunan keluarga saya. Biasanya kami sekeluarga mudik ke Bukittinggi menjelang idul fitri. Pernah naik bus umum Jastra, pernah juga naik mobil pribadi. Papa gantian nyetir dengan petek If rahimahullah.

Banyak sekali kenangan-kenangan menyebrangi selat Sunda ini. Pernah sekali waktu saya sekeluarga sahur dua kali di tengah kemacetan menuju pelabuhan. Antrian panjang banget. Berkilo-kilo meter. Padahal waktu itu mama saya hanya menyiapkan bekel sahur untuk satu kali makan saja.

Kemacetan yang panjang dan berjam-jam ini terkadang menjadi alasan kami untuk minta dibelikan pop mie oleh papa saya. Papa memang agak-agak anti sedikit dengan berbagai macam mie. “Gak sehat”. Begitu katanya. Senangnya jika berhasil merayu papa supaya dibelikan pop mie yang dijajakan dari mobil ke mobil.

Selain itu saya juga sangat senang melihat pulau dan juga mercusuar-mercusuar yang berada di sepanjang perjalanan mengarungi lautan yang menghubungkan pulau jawa dan pulau sumatra.

Jika kami sekeluarga menyebrang di malam hari, saya sangat senang melihat gugusan bintang yang bertebaran di langit selat sunda. Kelap-kelip cahaya dari atas sana cantik sekali. Tentu saja ini ketika cuaca cerah.

Ada satu bagian yang paling saya seneng dan gak lupa sampe sekarang, yaitu melihat ikan lumba-lumba yang timbul tenggelam di tengah lautan. Kadang dalam jumlah banyak, kadang sedikit. Momen melihat lumba-lumba ini adalah momen langka karena belum tentu setiap penyebrangan akan melihat atraksi spontan si lumba-lumba. Hingga tulisan ini saya tulis baru di dua tempat saya melihat langsung ikan lumba-lumba di lautan luas. Satu di penyebrangan selat sunda ini, dan yang kedua ketika saya dan suami mengarungi lautan dengan speedboat dari pulau Derawan menuju pulau Maratua. Will not forgotten!
***
Ruang Penumpang dan Fasilitasnya

Anak-anak riang sekali ketika mobil memasuki lambung kapal kemudian naik ke atas, dek 2. Ini adalah untuk pertama kalinya mereka naik kapal berukuran besar. Biasanya kapal ferry biasa untuk penyebrangan lombok bali saja. Pagi itu penumpang mobil pribadi tidak terlalu banyak.

Setelah mobil parkir dengan sempurna sesuai dengan instruksi anak buah kapal (ABK), saya dan rombongan turun. Kami naik lagi satu tingkat, ruang penumpang di Dek 3. Ketika kaki sudah menapaki anak tangga paling atas terdapat petunjuk arah ruang penumpang di dinding kapal. Ruang Penumpang: ruang ekonomi, executive, VIP, cafetaria dan informasi.

Ruang khusus penumpang ini tertutup karena dilengkapi AC. Jadi setiap kali masuk ataupun keluar, jangan lupa untuk tutup pintu ya demi kenyamanan bersama. Ada tiga ruangan besar di ruang penumpang ini, yaitu ruang executive, ruang ekonomi, dan satu lagi ruangan di belakang ruang ekonomi. Saya kurang tahu apa namanya, namun di sana terdapat banyak matras untuk tidur.

Di bagian depan ruang executive ini ada beberapa ruangan yang ada sekatnya. Pemandangan dari sini langsung ke arah lautan. Kalo enggak mau liat lautan silahkan turunkan tirai. Sayang, saya gak kebagian ruangan yang ini.

Menurut saya ruang executive ini cukup nyaman. Untuk duduk disediakan sofa beserta meja. Lantainya beralaskan karpet. Sepatu atau sandal tidak boleh digunakan di ruangan ini. Di samping pintu masuk sudah disediakan rak sepatu. Selama saya naik kapal Legundi ini, keluar masuk ruangan, alhamdulillah si sendal aman diletakkan di tempat yang telah disediakan.

Selain itu kebersihan di ruangan executive ini dijaga banget. Tidak satu dua kali saya melihat ABK menyapu sampah-sampah kecil yang tercecer di karpet dengan sapu dan serokan yang diletakkan di beberapa tempat. Salah satunya diletakkan tidak jauh dari pintu kamar mandi wanita.

Beberapa tong sampah lengkap dengan penutup juga tersedia. Dan tidak lupa ada juga peringatan untuk menjaga kebersihan yang ditempel di beberapa bagian dinding.

Toilet juga disediakan di dalam ruang executive ini. Toilet wanita ada di deket pintu masuk ruang executive sebelah kanan kapal, sedangkan toilet laki-laki ada di deket pintu masuk ruang executive sebelah kiri kapal. Untuk standar fasilitas kapal, toilet di kapal Legundi ini jauh lebih baik dan bersih dibandingkan dengan toilet di kapal penyebrangan Lombok Bali. Airnya pun jernih dan selalu mengocor jika diperlukan. Beberapa kali saya lihat ABK keluar masuk untuk mengecek dalam toilet.

Jika kamu juga ingin mencoba nyamannya mengarungi lautan dengan kapal Legundi ini, jangan lupa ya dukung usaha dari PT ASDP ini untuk menggalakkan cinta kebersihan selama berada di kapal. Semua ini demi kenyamanan kita sesama penumpang. Yuk mari mulai dari diri kita sendiri.

Di dalam ruangan executive ini juga tersedia cafetaria. Kalo menurut saya untuk harganya cukup bersahabat dengan kantong. Secangkir kopi instan yang dipesen suami saya dihargai tiga ribu rupiah.

Selain itu di ruang executive ini juga disediakan ruangan untuk menyusui. Bagian ini nanti akan saya ceritakan di sub bab tersediri. Lanjut baca hingga selesai ya. Hehe.

Sekarang kita beralih ke ruang ekonomi. Tidak banyak yang dapat saya ceritakan di ruangan ini karena selama perjalanan saya lebih banyak di ruang executive. Hanya sesekali masuk ke dalam ruang ekonomi. Kursi yang disediakan di ruang ekonomi ini seperti kursi di kereta api kelas ekonomi/ bisnis. Ada meja dan juga cafetaria.

Televisi juga disediakan di ruang penumpang, baik di ruang executive ataupun ekonomi. Hanya saja satu yang saya sesalkan, kurang selektifnya petugas dalam memilih jenis film yang ditayangkan dan juga jam tayang film itu sendiri. Begitu juga dengan lagu, yang kebanyakan lagu dangdut campur sari. Tau dong bagaimana dvd dangdut campur sari. Huhuhu pakaian minim dan seksi, make up full. Kalo menurut saya seh kurang pas lah buat ditonton anak-anak saya yang berusia tujuh tahun ke bawah.

“…….
Yo wes ben nduwe bojo sing galak
Yo wes ben sing omongane sengak
…….”
Rasane kok yo pengen nangis dipojokan. Hiks.hiks….

Oh ya, jika kamu butuh informasi selama berada di dalam kapal, ruang informasi ada di dalam ruang penumpang di antara pintu masuk ruang executive.

Naik ke Dek 4, sebuah cafetaria dengan konsep terbuka ada di sana. Bagi kamu yang ingin menikmati hembusan angin laut, tempat ini adalah tempat yang tepat. Ketika saya lagi naik kapal Legundi ini tiupan anginnya kenceng banget. Jadinya ogah berlama-lama di area ini. Hehe.

Bagi yang hendak menunaikan sholat lima waktu, jangan khawatir di dek 4 ini disediakan musholla yang cukup luas, nyaman, dan bersih. Jangan lupa untuk memperhatikan petunjuk arah kiblat di langit-langit musholla. Untuk wanita tak usah khawatir enggak bawa mukena, di musholla kapal Legundi ini disediakan cukup banyak pilihan mukena.

Fasilitas lainnya yaitu matras. Bisa digunakan di ruangan khusus tidur di belakang kelas ekonomi. Namun khusus untuk anak bayi matras ini bisa dipinjam untuk ditarok di ruang tempat kita duduk. Berhubung saya duduk di ruang executive, so matrasnya dibawa ke ruang executive deh. Persyaratannya gampang aja untuk pinjam matras, cukup serahkan KTP kepada petugas di ruang informasi. Namun matras ini hanya bisa dipinjam ketika sudah malam, dan pagi hari harus dikembalikan. Jadi fungsinya bener-bener untuk tidur. Gak bisa untuk alas duduk leyeh-leyeh di siang hari. Hehe. Ssssttttt…..orang dewasa yang pengen tidur pake matras harus ke ruangan di belakang cafetaria di belakang ruang ekonomi ya.

Ruang Menyusui dan Kekhususannya

Sekarang saya mau cerita tentang ruang menyusui. Berhubung saya ini adalah seorang ibu yang menyusui bayi, ketika masuk ruang executive dan melihat ada tulisan ruang menyusui terpampang nyata di sebuah pintu rasanya bahagia sekali.

Mentang-mentang diri ini adalah busui, yo kok pede sekali langsung teken gagang pintu mau masuk aja. Ups ternyata ruangannya dikunci. Mulai deh hati ini berceloteh sebel kok si pintu gak mau kebuka. Beberapa kali mencoba. Positive thinking, mungkin kurang kenceng teken gagangnya. Tetep dong gak bisa. Hiks..hiks…

Seorang security berbadan tegap menghampiri.
“Maaf, Bu. Ruangan ini bukan untuk umum.”
“Iya, Pak saya tau. Saya mau nyusuin anak saya, tapi ruangannya gak bisa dibuka.”
“Ooo sebentar saya ambilkan kuncinya di ruang informasi.”
Dilalaaah ruangan ini sengaja dikunci toh. Duh ya, kok sotoi banget si saya ini. Tak lama si bapak security sudah kembali ke depan pintu masuk ruang menyusui dan kemudian membukakan pintu.
“Silahkan, Bu. Tapi ruangan ini digunakan lima belas menit atau sampai bayinya kenyang ya, Bu. Nanti kalau sudah selesai harap lapor lagi ke ruang informasi.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Si bapak security beranjak pergi, sedangkan saya beranjak masuk ke ruangan menyusui.

Di dalam ruangan menyusui ini disediakan sebuah tempat tidur lengkap dengan kasur. Tempat tidurnya seperti di rumah sakit. Selain itu juga ada sofa panjang dan juga televisi.

IMG_20171024_014758_HDR-01

Walau anak saya usianya sudah satu tahun lebih, namun masih sering menyusu. Oleh karena itu, tiap bentar selang dua atau tiga jam gitu saya suka ke ruang informasi minta ruangan khusus menyusui dibuka.

Pak Yan dan Kebaikan yang Tidak mengenal Tempat dan Waktu

Nama yang tertulis di bajunya YAN. Seorang sekuriti di kapal Legundi. Pertama kali liat beliau ketika sedang berjaga di deket pintu masuk ruang penumpang. Walau jadi sekuriti, beliau tetep ramah dan murah senyum kepada penumpang.

Beliau beberapa kali membantu saya membukakan pintu ruangan menyusui. Sekali waktu saya minta bantuan tengah malem. Kebetulan pak Yan yang sedang di ruang informasi walau sudah berganti baju. Tidak lagi pakai baju seragamnya, beliau tetap mau membantu.

“Lihat ibu tengah malem gini masih urusin anak, saya jadi inget waktu anak saya masih kecil-kecil. Saya suka jagain anak saya malem-malem. Sampe sekarang mereka udah besar masih tetep inget waktu kecil ditemenin saya kalo malem”
Saya ber-ooo ria.
Dan ketika shubuh tiba, saya disambut oleh hujan besar ketika membuka pintu hendak naik tangga menuju musholla. Anginnya pun kenceng. Saya urungkan niat keluar. Terbersit hendak sholat deket tempat duduk saya aja. Lagi-lagi papasan sama pak Yan.
“Mau sholat bu?”
“Iya.”
“Kalo mau ke musholla jangan lewat tangga yang ini, Bu. Lewat tangga belakang saja.”
Ah sepertinya Pak Yan ini menangkap ketidaktahuan saya dengan tangga belakang. Beliau pun mengantar saya ketangga belakang. Melintasi ruang ekonomi hingga ke pintu ujung yang berbatasan dengan ruang tempat matras. Ya..ya..keluar dari pintu samping langsung disambut tangga ke atas yang ada kanopinya.
“Makasih, Pak.”
“Sama-sama, Bu.”
Sepanjang melintasi ruang ekonomi pak Yan sempet cerita tentang anak-anaknya. Salut juga denger cerita perjuangan bapak yang satu ini. Tinggal anaknya yang bungsu yang masih kuliah. Sedangkan anak-anaknya yang lain sudah lulus dan bekerja. Dan saya lupa jumlah anak beliau. Entah tiga, entah empat.

Dan terakhir ketemu pak Yan ketika akan turun ke dek dua karena kapal hendak merapat ke salah satu dermaga di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Beliau menyapa saya dan suami.
“Selamat jalan, Pak, Bu. Semoga selamat sampai tujuan.” Ujarnya dengan senyumannya yang ramah.

Belajar Tidak Mengenal Tempat dan Waktu

Salah satu yang sangat saya senangi ketika jalan keluar rumah bersama anak-anak yaitu melihat wajah ceria mereka jika melihat apa pun yang baru menurut mereka. Terkadang mereka itu memperhatikan sesuatu yang luput dari perhatian saya.

Ya, sepulang dari edisi turing pulang kampung ini mereka ingat hal-hal kecil ketika mengarungi laut dengan kapal Legundi, seperti apa kapal akan tenggelam di tengah laut, seperti apa usaha ABK supaya mobil, bus dan truk aman masuk ke lambung kapal.

IMG_20171024_071319_HDR-01

Mereka sangat senang bisa melihat kapal yang membawa puluhan kontainer berlayar di tengah lautan.

Anak sulung saya yang makin lancar membaca sejak masuk SD tiba-tiba bertanya apa itu sekoci setelah membaca tulisan sekoci terpampang di dinding kapal.

Mereka juga begitu excited melihat tumpukan sampah dibuang oleh ABK dari sisi kapal di dek dua yang merapat ke dermaga. Awalnya mereka menyangka sampah-sampah tersebut dibuang ke laut, dan tanpa sungkan mereka menghampiri.
“Bundaaa, ada truk sampah di bawah sana. Bukan dibuang ke laut ternyata.” Ujar bujang kecil saya.

Dan untuk pertama kalinya mereka tahu ternyata mobil bisa lho naik ke dek dua kapal.

Masih banyak lagi hal-hal kecil yang mereka tanyakan selama pelayaran. Semoga hal-hal kecil ini berguna hingga besar nanti ya, Nak. Mudah-mudahn selalu diingat.

Menyilau Suramadu dari Jauh

Kapal Legundi menunggu cukup lama di tengah laut di sekitaran pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Antri untuk merapat ke dermaga.

Dari kejauhan terlihat jembatan yang berdiri kokoh membelah lautan, menghubungkan utara kota Surabaya dengan pulau Madura. Ya, itulah jembatan Suramadu nan terkenal itu.

IMG_20171024_091156_HDR-01

Walau tidak menjejakkan kaki di sana, namun hati ini cukup senang dan puas walau hanya melihat dari jauh saja. Hope someday will be there. Tentunya tidak lupa untuk cekrek cekrek. Foto. Hehe

Eh kapal sudah merapat dengan sempurna. Saatnya melakukan perjalanan darat menyusuri pulau jawa. Sampai di sini dulu cerita saya dalam #RoadTripMbokJastra. Sampai bertemu ditulisan berikutnya teman-teman.

Salam
Vidy

Note: Oh ya informasi mengenai jadwal keberangkatan dan kedatangan Legundi di atau ke Surabaya silahkan berselancar di:
https://www.indonesiaferry.co.id/beranda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s