Grand Design Laporan Keuangan Emak

Hm…setelah kemumetan sedikit demi sedikit terurai, saya jadi kepengen curhat menapaki jejak masa lalu. Eeeeaaaa.

Pertama kali belajar akuntansi ketika SMA. Tapi lupa pastinya, entah dari kelas satu SMA atau hanya kelas dua saja. Tapi yang pasti seh pernah belajar waktu SMA walau cuma sebentar gara-gara sok iyeh ambil jurusan IPA ketika kelas tiga.

Memasuki dunia perkuliahan malah kebalik.  Saya say goodbye sama jurusan yang berkaitan dengan ilmu eksakta dan kemudian “mengakrabi” diri lagi sama jurnal, debit, kredit, audit, neraca, laporan rugi laba, kertas kerja, beban,  beserta teman-temannya. Yeah you never know where life will take you in.

Hei hei hei belasan tahun sudah saya meninggalkan kampus. More than a decade. Ck.. ck.. ck…ketauan deh tuanya “awet mudanya”. Dan bablas lima tahun lebih jadi emak-emak kece di rumah. Ngurusin suami sama anak-anak. Melambaikan tangan buat akuntansi. No more data entry,  journal, debit, credit, financial report, closing and etc. Ayeuna mah akrab kana dapur jeung babaturan na. Ihiiiy.

Dream to Reality
Kirain tuh ya pak suami hanya omongan basa basi pengen punya usaha warung makan. Jreng..jreng…he made it. Dan kini saya jadi “dijejelin” sama yang namanya kwitansi, nota-nota pembayaran dan semacamnya.

“Dicatet ya, Bun”

Nah lho sederhana banget kan pesen pak suami saya. Dilalah saya beli deh tuh satu buku kas di toko fotokopian depan komplek rumah. Buku kas yang udah ada kolom debit kredit dan saldo itu lho.

Satu persatu saya catet sesuai dengan angka-angka yang tertulis di nota. Mulai dari yang printil-printil hingga pengeluaran yang besar seperti sewa toko, sewa rumah, dan pembelian aktiva tetap – kendaraan bermotor. Tentunya nota-nota saya filling dengan rapi. Rasanya dah ala-ala kantoran deh pokoknya. Wakaka.

Grand Design Laporan
Angka yang tertera pun jadi tidak sedikit.  Alarm di kepala saya berbunyi. Hm…ini harus dibikin pembukuannya. Tidak bisa hanya dengan buku kas saja.

Dan mulailah saya “bekerja”. Membuat grand design untuk pembukuan warung-nya pak suami. Eeee cieee grand design. dah kayak apa aja.

Mentok! Betul dulu saya kuliah jurusan akuntansi. Belajar deh tuh transaksi mulai dari jurnal hingga jadi laporan keuangan. Eh tapi ya, ternyata oh ternyata, ketika mempraktekkannya dalam sebuah usaha yang nyata tidaklah sesederhana teorinya. Walau teori-teori di akuntansi itu tidak bisa juga dikatakan sederhana. Apalagi yang namanya akuntansi biaya. Whuaaa…whuaaa..

Jalan keluar untuk kemumetan saya yang pertama yaitu grup WA temen-temen seperjuangan waktu kuliah dulu.

“Temans, mau tanya dong. Ada yang tau gak referensi buat bikin lap keu warung makan?”

Alhamdulillah beberapa solusi saya dapatkan, seperti:

“Ada buku excel aplikasi akuntansi keuangan buat usaha kecil gitu kok. Coba search aja. Di bukunya ada cd isinya template aplikasi dari excel. Coba aja”

“Kalo ga salah Ada psak UMKM… Bisa jdi referensi…”

Saya cobalah browsing saran-saran di atas. Well, intinya download aplikasi dulu. Dan saya pun berdiskusi dengan pak suami. Selamaaaaat, solusi anda ditolak! Whaaat? Iya ditolak. Pak suami saya enggak mau pakai aplikasi. Alasannya sederhana banget deh. “Ini kan cuma warung kecil aja.”. Oh pak suami, sukses deh bikin kemumetan part 2.

Mau gak mau emak pun jadi ngulik-ngulik excel lagi. Sebelum kolom-kolom dibuat, terlebih dahulu membuat chart of account (COA). Sok keren deh istilahnya. COA tak lain adalah nama akun beserta nomor akun. Memilah-memilah setiap transaksi ke akun seharusnya. Dan tentunya perlakuan setiap akun berbeda. Ooooh my goodness. Tampak kudu kuliah pengantar akuntasi 3 SKS ini. Hahaha.

Yuk mari. Dimulai dari aktiva, aktiva lancar, aktiva tetap beserta akumulasi depresiasinya. Kemudian lanjut ke akun pasiva dan tentunya modal. Done!
111 kas di tangan

112 kas di bank

121 Piutang Toko

122 Piutang Karyawan

131 Sewa Dibayar Dimuka – Toko

132 Sewa Dibayar Dimuka – Rumah

133 Biaya Pra Operasional

141 Persediaan Bahan Baku

151 Perlengkapan

161 Peralatan

dan seterusnya.

Eits, belom selesai. Masih ada lagi akun-akun untuk di laporan rugi laba. Dimulai dari penjualan tunai dan seterusnya hingga mendapatkan rugi atau laba.

Hm…grand design pertama ini saya cut off sampe satu hari sebelum adanya transaksi penjualan. Jadi belom ada Laporan Rugi Laba. Sedangkan untuk pos-pos yang seharusnya masuk dalam akun beban, untuk sementara saya catat dulu di akun Biaya Pra Operasional.

Biaya Pra Operasional (D)   XXX
Kas (K)  XXX

Nanti setelah ada transaksi penjualan, pos-pos ini tinggal bikin jurnal balik.
Beban Perlengkapan (D) XXX
Beban Transportasi (D).  XXX
Biaya Pra Operasional (K) XXX

Semangaaat memilah-milah nota yang bertumpuk. Setelah selesai memilah  nota, dimulailah bekerja di kertas kerja (worksheet). SKSD lagi sama yang namanya excel. Heheh.

Bekerja lagi dengan excel yang sudah lama tidak saya jajal menjadi sesuatu banget deh. Berusaha untuk mengingat-ingat lagi short cut supaya bekerja lebih efektif dan efisien. #Sok iyeh. And you know what, agak “gagap” ilmu euy. Geus poho deui printilan-printilan teh. Walau secara garis besar saya tau kemana laporan ini akan bermuara.

Semangat emak rempong…..

Mataram, 1 Oktober 2017
Ditulis oleh Vidy

Sumber gambar: http://www.pojokbisnis.com

Advertisements

One thought on “Grand Design Laporan Keuangan Emak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s