Pengantar Kelas Bahasa Arab

Nak, ketika bunda menuliskan tulisan ini, bunda tidak muda lagi.Tidak terlalu muda tepatnya. Usia bunda sudah dimulai dengan angka tiga. Dari segi usia, kata orang-orang, bunda memasuki usia dewasa dan matang.

Bulan ini bulan September, Nak. Tahun ajaran baru sekolah sudah berjalan sejak dua bulan yang lalu. Kamu bukan lagi balita Bunda. Kamu kini anak SD. Anak bujang Bunda. My boy!

Rasanya baru kemarin Bunda mengantarkanmu dan ikut larut dalam eforia perpisahan sekolah TK. Gaya sekali anak TK sekarang sudah pake toga. Di sebuah gedung di Taman Budaya Mataram yang di dalamnya ada sebuah panggung yang luas dan lengkap dengan sound system yang mumpuni. Ada juga tirai yang tinggi dan kursi-kursi seperti di bioskop ternama. Selain itu juga ada ruang kontrol untuk lampu dan suara. Kereeeen. Dengan penuh percaya diri kamu melangkah ke tengah panggung  untuk membaca surah Ad Dhuha yang artinya dibacakan oleh Nadine, temanmu. Aih Nak, bunda kaget mendengar riuh rendah suara dan juga tepuk tangan teman-temanmu yang duduk di deretan kursi paling depan. Tampaknya mereka juga turut senang seperti bundamu ini, melihat kamu berdiri di tengah panggung tersebut. Bunda turut bangga melihat keberanianmu untuk tampil di hadapan puluhan orang yang memenuhi ruangan itu, Nak. Walau itu bukanlah segalanya, Nak. Bukan segalanya! Tapi mudah-mudahan semua ini bisa menjadi salah satu bekalmu kelak menapaki kehidupan yang hanya sementara ini. Kamu harus berani, Nak.

Nak,  jalanmu menuntut ilmu ke jenjang lebih tinggi dari TK, yang sedang kamu tempuh saat ini, sedikit berbeda dengan teman-temanmu. Tidak ada baju seragam. Yang ada baju bebas. Yang penting baju muslim. Tidak ada upacara. Tidak ada gedung besar. Yang ada sebuah rumah kecil yang bertransformasi menjadi sekolah sementara. Masih banyak yang lain perbedaannya, Nak. Tapi kamu tidak perlu berkecil hati dengan semua itu, Nak. Karena bukan semua itu point utama dari sekolah. Semua itu hanyalah sarana pendukung saja. Banyak jalan menuju sebuah tujuan, bukan? Dan jalan setiap orang tidak akan pernah sama, Nak.Tak seorang pun sama. Itulah kehebatan Allah Ta’ala. Semoga kamu selalu ingat yang satu ini ya, Nak.

Awalnya bunda sempat berbeda pendapat dengan bapakmu tentang hal pendidikanmu. Tapi akhirnya bundamu ini “menyerah” mengikuti keinginan bapakmu, Nak. Bismillah insya allah ini yang terbaik. Ya, akhirnya kami sepakat untuk menyekolahkanmu di sebuah sekolah baru. Sekolah yang muridnya saja masih hitungan jari. Namun di sekolah ini lebih fokus untuk penghafalan Al-quran, hadist-hadist, akhlak, fikih, akidah dan juga doa-doa yang sesuai dengan sunnah rasulullah. Satu lagi, kamu juga akan belajar bahasa arab, Nak.

Oh ya, bunda hendak berbagi sedikit cerita. Dulu waktu masih SD, dari kelas satu hingga kelas empat bunda juga pernah lho yang namanya belajar fikih, akidah, tauhid, akhlak. Tapi bukan di sekolah dasar karena bunda dulu SD nya di SD Negeri. Bunda belajar semua itu di TPA. Setiap sore selepas ashar bunda pergi menuju gedung TPA yang bersebelahan dengan mesjid. Ini pun tidak sampai selesai karena bundamu ini keburu pindah kota. Hanya saja ya Nak, bunda tidak ada pelajaran bahasa arab.

Di usia bunda yang sudah 30-an ini tidak terpikir sebelumnya ingin belajar bahasa arab, Nak. Malahan bunda masih asyik aja cari-cari artikel berbahasa inggris. Tujuannya ya satu aja, supaya kemampuan bahasa inggris bunda ini tidak lenyap begitu sajah. Kan sayang, Nak. Sejak jadi full time mom, bunda jadi sangat jarang menggunakan bahasa inggris. Padahal waktu masih ngantor , uwiiiih tiap hari gak lepas dari yang namanya bahasa inggris. Walau sebenarnya bahasa inggris bundamu ini so so aja seh. Sok iyeh banget ya. Bunda kebanyakan gaya ya.

Kamu ingat tidak Nak, diskusi kita tempo hari. Satu siang. Ah, bunda lupa tanggal pastinya. Kamu dengan santainya berucap: “Bunda, saya ajarkan bunda bahasa arab, tapi bunda ajarkan saya bahasa inggris ya.”

Plak. Pipi ini rasanya ditampar keras, Nak. Sakiiiit rasanya. Usiamu belum genap tujuh tahun. Belajar bahasa arab pun masih hitungan bulan. Dihitung dengan jari di tangan kanan saja jarinya masih sisa. Bisa-bisanya kamu mengajak bunda untuk membuat kesepakatan seperti itu, Nak. Lagi-lagi kamu menunjukkan kepercayaan dirimu yang tinggi.

Nak, tahukah kamu bahwa ucapanmu tempo hari itu masih terngiang di benak bunda hingga hari-hari berikutnya. Ini menjadi sesuatu yang tidak sederhana bagi bunda. Belajar bahasa arab? Tidak pernah terpikirkan akan serius belajar mendalami bahasa satu ini. Apalagi belajar dan berguru kepada anak sendiri. Yang satu ini lebih-lebih tidak pernah terlintas dalam pikiran bunda.

Lamat-lamat bundamu ini berpikir, Nak. Kata orang yang namanya belajar itu tidak mengenal tempat, tidak mengenal waktu, tidak memandang usia. Setiap detik itu adalah belajar! Siapa saja bisa menjadi guru bagi orang lain. Ah jika merujuk kepada kata orang-orang ini, seharusnya seh bukan hal yang aneh ya, Nak bunda belajar bahasa arab di usia yang cukup matang dengan guru adalah anak sendiri yang usianya masih hitungan jari. Hm…

Baiklah, mari kita coba, Nak. Kita buka buku pelajaran bahasa arab itu bersama-sama. Semoga Allah Ta’ala memudahkan langkah kita untuk mengenal lebih dalam bahasa arab. Sebuah bahasa yang mana Al Quran kitab suci kita dirangkai dengan bahasa ini.

Dan pelajaran bahasa arab pun dimulai. Semangaaaat..

Ma hadza?

Mataram,  17 September 2017
Ditulis oleh: Vidy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s