KGDM: Jawaban untuk Sebuah Pertanyaan

2017-01-13_12-39-20

PROLOG

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

Nama saya Nadal Akhyar. Biasanya dipanggil pak Nadal. Alhamdulillah Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kesempatan hidup untuk saya hingga diusia 52 tahun ini. Saya adalah seorang suami sekaligus bapak dari dua anak laki-laki. Alhamdulillah keduanya kini sudah remaja dan duduk di bangku sekolah menengah atas. Puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hampir 18 tahun berlalu sejak dokter mengatakan bahwa saya mengalami gagal ginjal terminal.  Sejak usia anak sulung saya masih hitungan bulan hingga kini sudah belasan.  Melalui blog ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman hidup saya dalam menjalani hidup dengan ginjal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hampir 18 tahun Allah Ta’ala menakdirkan saya untuk hidup dengan fungsi ginjal yang digantikan oleh mesin.

Semoga setelah membaca cerita-cerita saya ini,  pembaca yang diberi nikmat sehat bertambah rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan yang diberi nikmat sakit bisa tambah tawakal. Semua yang diberikan Allah Ta’ala insya allah adalah yang terbaik.

Semoga pengalaman hidup saya ini bermanfaat bagi semua yang membacanya.

Salam

Nadal

XXX

JAWABAN UNTUK SEBUAH PERTANYAAN

    “Benar. Sesungguhnya manusia itu suka melampaui batas.” (Surah Al-Alaq: 6)

Sebuah pertanyaan seperti selalu mengikuti saya. Bagaimana bisa vonis gagal ginjal ditujukan kepada saya? Saya jadi rajin membaca. Saya tidak berhenti pada keterangan dokter saja untuk mencari sedikit titik terang penyebab awal dari semua ini. Informasi-informasi tentang penyakit gagal ginjal terus saya gali.

Setelah membaca begitu banyak tulisan-tulisan mengenai gagal ginjal dan juga informasi dari banyak orang, ternyata banyak sekali penyebab penyakit yang satu ini. Secara garis besar dibagi tiga, yaitu:

  1. Prerenal (dehidrasi)
  2. Renal (tekanan darah tinggi atau hipertensi, diabetes mellitus, infeksi).
  3. Post renal (sumbatan batu).

Hipertensi! Ya, hipertensi menjadi jawaban bagi saya untuk semua pertanyaan dalam benak ini.  Saya jadi teringat kembali hari-hari saya selama satu tahun sebelum vonis dokter itu ditujukan kepada saya. Tekanan darah saya tidak normal. Seharusnya ini menjadi sebuah peringatan keras terhadap diri saya. Nasi sudah menjadi bubur, saya akui saya abai dalam hal yang satu ini.

Sepanjang ingatan saya, tekanan darah itu pernah mencapai angka 180/100. Tak jarang saya merasa pusing di kantor. Namun pusing ini tidak pernah saya tanggapi dengan serius dan tidak berpikir jauh bahwa ini adalah sesuatu yang harus diperiksa lebih dalam ke dokter spesialis hipertensi. Jika sudah pusing biasanya saya hanya mendatangi klinik yang kebetulan menjadi salah satu fasilitas di perusahaan tempat saya bekerja dan biasanya dokter memberi saya obat darah tinggi. Semua sampai disitu. Lagi-lagi Sepanjang ingatan saya, saya merasa tidak pernah disarankan oleh dokter yang bertugas di klinik untuk melakukan general check up lengkap guna mengetahui lebih lanjut penyebab tekanan darah yang tinggi ini. Hm..kenapa juga saya harus menunggu disarankan ya? Seandainya saat itu saya berinisiatif untuk periksa lebih lanjut. Ah tapi sudahlah, tidak akan bertemu dengan ujungnya jika membahas yang satu ini. Namun yang pasti,  hal ini menjadi penyesalan tersendiri bagi saya. Andai saja waktu bisa berjalan mundur.

Di sisi lain, dengan adanya cobaan sakit ini, saya merasa bahwa ini juga merupakan sebuah teguran dari Yang Maha Kuasa kepada diri saya atas kelalain menjaga nikmat sehat yang telah diberikan. Saya mengingat kembali hari-harinya sebelum vonis itu. Raga dipaksa bekerja lembur untuk menyelesaikan deadline pekerjaan. Terkadang waktu 24 jam sehari seolah tidak cukup bagi saya untuk menyelesaikan pekerjaan saya. Namun raga itu tidak diberi asupan tepat pada waktunya. Makan telat, jarang minum air putih, dan sangat jarang berolahraga. Lengkap sudah pemicu ketidakseimbangan dalam tubuh saya. Organ-organ dalam tubuh dipaksa bekerja maksimal dengan asupan makanan minimal.

XXX

Mataram, 23 Maret 2017

Ditulis oleh Vidy

Cerita sebelumnya bisa dibaca pada tautan di bawah ini:

KGDM: Sebuah Hikmah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s