KGDM: Sebuah Vonis

2017-01-13_12-39-20

PROLOG

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

Nama saya Nadal Akhyar. Biasanya dipanggil pak Nadal. Alhamdulillah Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kesempatan hidup untuk saya hingga diusia 52 tahun ini. Saya adalah seorang suami sekaligus bapak dari dua anak laki-laki. Alhamdulillah keduanya kini sudah remaja dan duduk di bangku sekolah menengah atas. Puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hampir 18 tahun berlalu sejak dokter mengatakan bahwa saya mengalami gagal ginjal terminal. Sejak usia anak sulung saya masih hitungan bulan hingga kini sudah belasan. Melalui blog ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman hidup saya dalam menjalani hidup dengan ginjal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hampir 18 tahun Allah Ta’ala menakdirkan saya untuk hidup dengan fungsi ginjal yang digantikan oleh mesin.

Semoga setelah membaca cerita-cerita saya ini,  pembaca yang diberi nikmat sehat bertambah rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan yang diberi nikmat sakit bisa tambah tawakal. Semua yang diberikan Allah Ta’ala insya allah adalah yang terbaik.

Semoga pengalaman hidup saya ini bermanfaat bagi semua yang membacanya.

Salam

Nadal Akhyar

XXX

SEBUAH VONIS

Maret 1999

“Saya cuma pasrah dan berusaha ikhlas menerima cobaan ini”

Bagi saya bagian ini bagaikan petir di siang hari bolong. Pada titik inilah pola hidup yang biasa saya jalani berubah 180 derajat. Bagai roller coster, perubahan itu bergerak dengan cepat menuju titik bawah sebuah penerimaan kenyataan hidup, ikhlas. Sebuah kata yang singkat namun mengandung makna yang sangat dalam. Kata ikhlas itu menguji sejauh mana keimanan kepada Sang Pencipta. Setelah mulut mengucapkannya, mampukah jiwa dan raga ini mengikuti makna ikhlas itu sendiri. Saya berusaha walau saya tahu bahwa itu bukanlah perkara mudah. Tapi yang penting saya mau mencoba dan menjalaninya.

Sepanjang ingatan saya, pagi itu, saya merasa saya sedang tidur. Walau begitu telinga ini tidak beristirahat dalam menjalankan fungsinya. Saya tetap mendengar suara-suara di sekitar saya. Saya mendengar suara isak tangis di sekeliling saya. Saya juga mendengar kalimat-kalimat Allah dilantunkan oleh istri saya. Saya mendengar suara Anne, adik saya, memberi dukungan kepada istri saya.

Pagi itu saya hanya mendengar tanpa mampu untuk mengucapkan sesuatu. Walau sekedar bertanya ada apa, lidah saya tetap kelu. Saya juga merasakan mulut saya dibuka kemudian ada sebuah alat yang dipasang. Saya merasa tidak nyaman namun saya tidak mampu untuk protes. Saya tetap diam dalam tidur.

Beberapa jam setelah itu, saya membuka mata. Perlahan. Saya terbaring lemah di salah satu tempat tidur dengan selang  di tangan yang terhubung ke mesin. Ruangan itu berbeda. Ruangan itu bukanlah ruangan ketika saya tadi akan memejamkan mata. Tadi sebelum tidur, saya ada di kamar rawat inap. Kini saya berada di sebuah ruangan besar dengan deretan tempat tidur dan juga mesin-mesin yang kemudian baru saya  tahu bahwa itu adalah mesin untuk cuci darah.

Berbagai macam pertanyaan muncul di benak saya. Di manakah ini? Ada apakah ini? Apa yang telah terjadi?

Saya tidak sendiri. Keluarga besar sudah berkumpul. Saat itu sudah ada istri saya-Mur, anak saya- Rifqi, ibu saya – Asnaneli rahimahullah, ibu mertua, saudara kandung dan juga kerabat lainnya. Semua berkumpul di rumah sakit karena saya.

Da Naf, kakak tertua saya, menyingkap semua tabir. Menjawab semua pertanyaan yang sudah memenuhi kepala saya sejak “membuka” mata lagi. Da Naf yang menjelaskan semua yang telah terjadi.

Ruangan tempat saya terbaring saat itu adalah ruang hemodialisa Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Atas kesepakatan keluarga, dokter diizinkan untuk melakukan cuci darah, sebuah tindakan pertolongan pertama bagi pasien yang terkena gagal ginjal.

Vonis dokter itu membuat saya terhenyak. Hah? Gagal ginjal? Ginjal saya tidak akan pernah berfungsi secara normal lagi. Dengan kata lain penyakit saya ini tidak bisa Disembuhkan.

Bagi sebagian orang mungkin kalimat “tidak bisa disembuhkan” akan menjadi momok tersendiri dalam menjalani lika-liku kehidupan. Seolah maut akan menjemput dengan segera. Saya terperangah namun mencoba untuk pasrah dan berusaha ikhlas menerima semua cobaan ini. Inilah takdir yang harus dijelang.

XXX

Ini adalah potongan-potongan cerita yang saya dapatkan dari keluarga tentang kejadian di hari Sabtu pagi itu. Sebuah kisah dengan diri saya sebagai pemeran utama.

Pagi itu saya terbaring di salah satu kamar rawat inap RS Kramat 128. Saya tidak sadarkan diri. Mulut ini berbusa seperti orang sedang keracunan. Dokter menjelaskan kepada keluarga apa yang sedang terjadi. Hasil cek laboratorium menunjukkan hasil yang jauh di atas batas maksimal. Kreatinin 14 mg/ dl dan ureum 290 mg/ dl. Dua hal ini menjadi indikator bahwa telah terjadi penurunan fungsi ginjal.

Dokter juga menjelaskan bahwa kedua kaki saya yang bengkak merupakan tanda bahwa cairan telah menumpuk di kaki. Dokter mencoba untuk menyedot, namun tidak berhasil. Kondisi saya tidak berubah. Sedangkan busa yang keluar dari mulut menunjukkan bahwa racun dalam tubuh tidak hanya berkumpul di kaki, namun juga sudah mulai ke atas. Dokter menyarankan harus dilakukan cuci darah segera untuk mengeluarkan racun-racun yang bertumpuk di dalam tubuh saya.

Da Naf menelpon Om dr Masri rahimahullah untuk meminta saran. Om dr Masri rahimahullah merupakan kerabat dari ibu kandung saya yang juga berprofesi sebagai dokter. Da Naf menceritakan secara cepat tentang kondisi saya. Om dr Masri rahimahullah juga berdiskusi langsung lewat telpon dengan dokter yang sedang menangani saya saat itu. Cuci darah menjadi satu-satunya solusi untuk memulihkan saya saat itu.

Musyawarah keluarga dilakukan dengan cepat dan mencapai mufakat untuk mengikuti saran dokter. Cuci darah akan segera dilakukan. Anggota keluarga saya berbagi tugas dengan sigap. Ada yang menemani saya di ruang rawat inap dan ada juga yang mengurus administrasi. Allah sungguh Maha Pengatur.

RS Kramat 128 saat itu tidak memiliki fasilitas untuk cuci darah. Rumah sakit terdekat yang memiliki peralatan cuci darah yaitu Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Saya didorong masuk ambulan yang kemudian melesat cepat menuju RS Islam Jakarta Cempaka Putih.

XXX

Mataram, 22 Januari 2017

Ditulis oleh: Vidy

Cerita sebelumnya silahkan baca ditautan bawah ini.

KGDM: Kembung Berujung Opname

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s