Bandung Juara!

bandung-juara

Bandung selalu punya cerita. Kota peristirahatan di zaman penjajahan belanda ini akan selalu memiki satu ruang di hati. Bandung yang tak akan terlupakan. Begitu banyak cerita. Begitu banyak kisah. Tentang persahabatan, tentang kesenangan, tentang kesedihan, tentang pengkhianatan, tentang kemandirian, tentang tanggung jawab, dan banyak lagi. Tapi satu yang gak akan ketinggalan pastinya, yaitu tentang cinta. Hahahaha. Ya, Cinta! Bandung yang akan selalu dikenang dan dicinta.


Empat tahun sudah tidak menyambangi kota Bandung. Terakhir kali menjejakkan kaki di sini bulan April 2012 ketika menghadiri wisuda adik saya tercintah di Sabuga. Waktu itu masih berstatus ibu dengan anak satu. Kalo sekarang, hm….

Ketika mendapat kabar suami ada seminar di kota kembang, hati ini senang sekali. Bisa keliling Bandung di waktu senggangnya suami. Saya teringat ucapan seorang teman tempo hari. “kalo mau jalan-jalan di Bandung jangan pas weekend tapi pas weekday.”. Bagaimana hati saya tidak berbunga-bunga ketika diberitahu bahwa seminar diadakan dari hari Selasa hingga Kamis. Weekday…weekday. Bandung, I miss you so.

Hadir kembali kini menyapa Bandung untuk beberapa hari saja. Tidak lupa memboyong ketiga anak saya. Sedikit rempong, tapi ya sudahlah! Hehehe

(10/10/16) Hari Senin perjalanan dimulai. Kalo enggak salah inget pas berangkat dari Bogor jam stengah sembilan pagi. Perjalanan saya dari Bogor lancar jaya melewati Puncak. Berenti agak lama di warung pas tikungan sebelum Puncak Pas Resort. Makan sate kelinci sambil menikmati pemandangan lembah yang diselimuti kabut.  Cakeeeeeepppp!

warung-sebelum-puncak

Perjalanan dilanjutkan. Alhamdulillah lancar lagi hingga lepas Cianjur. Tapiiiiii, ketika memasuki daerah Cipatat, laju mobil tidak lagi kencang.  Mobil melaju seperti laju ular piton besar. Lambat yang penting selamat. Hehe. Jalanan menanjak dan berliku.  Daaan ternyata macetnya sampe ke pertigaan ke arah Cimahi, tepat sebelum pintu tol Padalarang. Alhasil kaki suami pegel injek kopling-gas-rem, kopling-gas-rem. Menanjak pula. Sabaaaaar ya, Pak!

Hari Selasa lagi-lagi kena macet. Kali ini di jalan Gatot Soebroto, Kiara Condong ke arah perempatan dengan jalan Terusan Jakarta, ke arah Antapani. Belom lagi juga kena macet di daerah Cicaheum hingga PHH Mustofa deket Itenas. Yihaaaaaa…Juara deh!

Hari Rabu saya memilih berdiam diri dari pagi hingga sore di rumah adek saya di daerah Sindanglaya. Jadwal suami full di hari ini dan saya belom sanggup bawa tiga bocah sendirian. Baru pulang ke hotel lepas magrib menjelang isya. Hari ini goodbye macet. Hehe.

Hari Kamis ketemu lagi sama yang namanya macet. Kali ini dari pertigaan Gegerkalong hingga lewat terminal Ledeng. Begitu juga ketika turun dari Lembang menuju Bandung kota. Sekali lagi kena macet dari sebelum terminal Ledeng hingga depan kampus UPI. Terus turun ke bawah, lagi-lagi kena macet mulai dari setelah lampu merah pertigaan Gegerkalong hingga perempatan simpang Dago. Yihaaaaa! Cakep banget deh macetnya. Jadi napak tilas rute ngampus dulu. Hahaha.

Menyusuri jalanan di kota Bandung, sedikit demi sedikit mengurai kembali memori-memori lama ketika masih zaman kuliah dulu. Celetukan “Iiihh ini masih ada aja,” seketika menjadi kalimat yang sering saya ulang-ulang ditengah obrolan ngalor ngidul dengan suami. Dan kami pun jadi bernostalgila deh. “Waaaah sate kambing pojokan simpang Dago masih ada. Mc Donald juga masih eksis di pojokan, Salon Memori juga masih ada”. Hahaha. Salut juga saya dengan keeksis-an salon yang satu ini. Udah lama banget lho. Tante saya aja yang kuliah awal tahun 90-an udah kenal dengan salon yang satu ini. Lamanya pake bingit.

Melewati daerah Simpang Dago, memori saya kembali menjelajah rentang waktu 2002 hingga 2005. Tiba-tiba jadi kangen dengan teman-temen kosan, temen-temen seperjuangan cari makan malam di seputaran Simpang Dago. Ah, Cisitu Baru yang tak akan dilupakan. Jadi kangen kalian deh ah. Rindu tiba-tiba menyergap. Huhuhu, entah kapan kitah bisa reunian dengan membawa serta krucil-krucil pelengkap kehidupan.

miss-u

Ada satu yang saya surprise dengan perubahan kota Bandung, yaitu tanah kosong di sekitar aliran sungai yang ada di Babakan Siliwangi. Dulu daerah itu dibiarkan begitu saja, tidak tertata, tapi kini telah menjadi taman kota. Rapi. Ada playground buat mainan anak-anak. Cantik dan saya suka. Pertamanan kota Bandung berbenah. Salut deh buat pak Walikota Ridwan Kamil.

It’s time to say goodbye. Hari terakhir di Bandung. Inilah puncak dari semua cerita yang bikin saya terkejut hingga menjerit “edaaaaaaan” di dalam hati. #Hmmm gimana bentuknya tuh ya menjerit dalam hati. Hahaha.  Paraaaaaaaaahhhh. Perjalanan pulang pun, untuk keluar dari kota Bandung, sekali lagi macet menjadi sebuah akhir cerita jalan-jalan ke Bandung kali ini. Tidak hanya masuk kota, keluar kota pun kena juga. Hiks!

Sebelum berangkat dari rumah adik saya di daerah Sindanglaya, Sukamiskin, terlebih dahulu suami melihat peta. Hm…banyak sekali tanda merah jika melewati jalur pasupati. Suami memutuskan untuk keluar dari kota Bandung dengan melewati pintu tol Buah Batu.
Waktu menunjukkan pukul dua siang ketika keluar dari rumah makan Ibu Haji Cijantung di jalan Arcamanik Endah. Dari jalan ini mobil dipacu oleh suami menuju jalan Golf Barat Raya, kemudian ke jalan Terusan Jakarta. Setelah melewati jalan Terusan Jakarta belok ke jalan H. Ibrahim Adjie Kiara Condong. Jalan terakhir yang dilewati sebelum pintu tol Buah Batu yaitu jalan Terusan Buah Batu. Jreng..jreng…waktu menunjukkan sekitar pukul empat kurang sedikit ketika mobil masuk pintu tol Buah Batu. Hohoho untuk keluar dari kota Bandung harus berjuang hampir dua jam saja. Ckckck macetnya juara juga Bandung ini. Perasaan saya, semoga hanya perasaan saya saja, Bogor yang terkenal macet enggak sampai kayak gini banget. Seorang teman yang tinggal di Bandung pun mengakui kalo kemacetan di Buah Batu menyaingi daerah Kopo. Kemacetan ini tidak mengenal weekday atau weekend alias macet dari Senin hingga Minggu. Kumaha ieu pak Walikota? Semoga ada solusi untuk yang satu ini ya.

Semua cerita kemacetan ini entah kebetulan saya yang lagi apes kena macet, entah memang begini setiap harinya. Entahlah! Mungkin para pembaca yang sering wara wiri ke Bandung dan telah sudi meluangkan waktunya untuk membaca tulisan ini bisa menjawab jeritan dalam hati saya ini.

Ah Bandung, kini tidak hanya juara dengan factory outlet, dan cafe-cafenya, tapi juga juara macetnya. Hm….

Walau begitu, Bandung tetap di hati. Loph yu pul.

Bogor, 18 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s