Sol Sepatu Langganan

sol sepatu 2.jpg

Belajar itu sederhana. Belajar itu bisa kapan aja. Belajar itu bisa dimana aja. Belajar itu bisa apa aja. Dan belajar itu bisa kepada siapa saja.
Kadang enggak salah juga kalo banyak yang berujar “ada harga ada kualitas”. Pengen barang bagus, tentu harganya juga enggak murah dong alias mahal. Hehehe. Dan saya hanya bisa mengelus dada melihat barang yang baru berumur beberapa hari saja di rumah namun sudah minta direparasi alias diperbaiki. Huft!

Setelah sekian lama akhirnya bisa juga memenuhi janji kepada anak bujang saya yang besar, adha, untuk membelikan sendal gunung seperti punya bapaknya alias suami saya. Bapak adalah idolanya anak-anak saya. Jadi mereka sering sekali minta sesuatu yang mirip-mirip seperti yang dipake sang bapak. Walau sekarang banyak perlengkapan bocah yang meniru seperti perlengkapan orang dewasa, tapi dimana tempat orang yang menjual barang-barang tersebut juga bukanlah hal yang mudah. Susah-susah gampang. Kalo dicari banget enggak nemu-nemu, giliran udah pasrah lillahita’ala, eeeee nemu.
Inilah sekarang yang saya alami. Setelah enggak lagi ambisius cari sendal gunung buat ukuran kaki Adha, saya malah menemukan model yang sama dan tentu saja merknya tidak sama dengan punya bapake anak-anak. Khas emak-emak, sebelum menuju kasir tentu saja terlebih dahulu saya melihat harga sendal tersebut. Yihaaaaa, bahagia tiada tara. Lagi-lagi khas emak-emak. Harga si sendal murah meriah. Langsung saya menuju kasir. Kebetulan sendal ini adalah barang terakhir yang masuk ke keranjang belanja. #Sebelum sampai di meja kasir, mata tetep lirik kiri dan kanan. Kali ini menghasilkan sebuah sendal. Hahaha..Selesai urusan bayar membayar saya tancap gas pulang menuju rumah orang tua saya. #Kebetulan lagi pulang kampung ke rumah orang tua di Bogor.
Setibanya di rumah tentu saja senyum saya mengembang, bisa memberikan satu kejutan kepada Adha, memenuhi janji saya sendiri yang telah lama terucap. Alhamdulillah bisa menepati janji.
Senyuman Adha mengembang melihat sendal yang saya sodorkan.
“Terima kasih, Bunda.”
Lagi-lagi bahagia tiada tara mendengar ucapan terima kasih Adha. Cup..cup..cup..mmmuuuaaahhh deh buat anak bujang tercintah.
Bahagia tiada tara tidak berlangsung lama. Sendal gunung ala-ala ini mulai “menampakkan” kualitas aslinya. Lem bagian tengah sendal mulai membuka alias tidak lengket antara yg satu dan yang lainnya.
Rezeki tidak kemana. Satu hari setelah sendal gunung ala-ala rusak, bapak tua tukang sol sepatu yang biasa memperbaiki sepatu dan sendal lewat di depan rumah orang tua saya. Bapak ini memang menjadi langganan mama saya jika sepatu atau sendal ada yang rusak.
Daaaan Adha tidak melewatkan kesempatan untuk belajar. Dengan seksama Adha memperhatikan bapak tua tersebut memperbaiki sendalnya. Mulai dari mengamplas, memberikan lem, menjemur hingga sendal kembali seperti sedia kala.

sol sepatu 1.jpg“Bunda lemnya harus dijemur dulu supaya kering.” ujar Adha.

Ya! Belajar bisa kepada siapa saja. Seperti pagi ini, Adha belajar kepada seorang bapak tua yang memperbaiki sepatu atau sandal yang rusak. Teruslah belajar, Nak!

Bogor, 15 September 2015

Advertisements

2 thoughts on “Sol Sepatu Langganan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s