Belajar Percaya

Mendung menyelimuti langit Bogor pagi ini. Dingin. Rasanya males ngapa-ngapain. Hawa pagi ini sangat cocok untuk leyeh-leyeh sajah. Daaaan Oma Adha jadi males juga buat bikin sarapan pagi. Oma pagi-pagi udah sampe di warung Uni, pulang ke rumah bawa bubur kacang ijo. Enyaaaaaak. Oma juga bawa sebungkus sayur nangka tanpa ketupat. Si Uni warung enggak beli ketupat di pasar. Gagal deh keinginan Adha makan ketupat sayur pagi ini.

“Mas Adha sarapan bubur kacang ijo aja, ya?” Tanya saya kepada Adha.

Adha menggelengkan kepalanya. “Enggak mau. Mas Adha maunya ketupat sayur.” Adha keukeuh pengen makan ketupat sayur. “Gimana kalo beli di tempat Inyik (baca: kakek) biasa beli?” Ujar Adha lagi.

“Bunda enggak tau tempatnya, Nak.”

“Mas Adha tau tempatnya, Bunda. Nanti mas Adha kasih tau jalannya.”

“Bener mas Adha tau jalannya?” Tanya saya sekali lagi. Tatapan saya menyelidik. Pertanyaan ini lebih untuk meyakinkan diri saya. Apa iya bocah kecil saya ini tau dengan pasti jalan ke tempat ketupat sayur langganan papa saya.

Adha mengangguk. Wajahnya penuh percaya diri. Ah baiklah, tidak ada salahnya mencoba. Seburuk-buruknya hasil adalah nyasar, enggak ketemu tempatnya dan puter balik pulang ke rumah. Batin saya dalam hati.

Dan pagi ini saya membelah jalan raya komplek yang mulai ramai dengan kendaraan roda dua dan roda empat.

“Bunda, nanti kita belok ke kanan.” Ujar Adha.

Di depan sana jalan bercabang dua, dan kemudian saya pun belok kanan.

Stop Bunda. Bukan yang ini, tapi yang di depan lagi belok kanannya.” Ujar Adha memberi instruksi.

Di depan sana memang ada pertigaan. Saya mengikuti instruksi Adha. Mengikuti jalan berliku kemudian menurun, dan di depan sana terlihat lagi jalan bercabang dua.

“Bunda, kita belok kanan ya.” Sekali lagi instruksi dari Adha.

Saya mengikuti instruksi Adha. Jalan terus menurun hingga bertemu sebuah jembatan. Kemudian jalan kembali datar. Tak lama Adha menunjuk sebuah tenda di tepi jalan di sebrang gerbang perumahan. “Itu dia Bunda. Biasanya mas Adha beli di sana sama Inyik.”

Saya berhenti di samping tenda ketupat sayur tersebut. Uni penjual ketupat sayur tersenyum kepada Adha. Ah, ia tampak familiar dengan Adha.

Di rumah saya mencoba sedikit ketupat sayur tersebut. Tidak salah lagi, ini benar ketupat sayur yang biasa dibeli oleh papa saya.

Terima kasih kepada Allah Swt yang sudah menuntun hati dan pikiran saya untuk percaya kepada perkataan anak bujang kecil saya yang akan genap berumur enam tahun di bulan November nanti.

Pelajaran pagi ini: belajarlah untuk percaya dan jangan lagi-lagi menyepelekan daya ingat anak kecil.

Believe….believe…believe…

Bogor, 29 September 2016

 

Yuk, Ka Bumi Aki!

bumi-aki-1

(26/09/16) Kata bumi dalam bahasa sunda diartikan rumah dalam bahasa indonesia, sedangkan aki adalah kakek. Jadi, kalo dua kata tersebut digabung maka bumi aki adalah rumah kakek. Bagi yang sering wara-wari jalan raya puncak hingga ke daerah Cipanas, maka akan familiar dengan tulisan Bumi Aki. Hm….apa seh bumi aki?

Continue reading Yuk, Ka Bumi Aki!

Cimory Oh Cimory, Akhirnya!

cimory-1

(17/9/16) Sabtu ceria. (Mungkin) ini adalah salah satu perjalanan yang judulnya niat banget harus menempuh puluhan kilometer hanya untuk sekedar makan siang.
Mumpung lagi pulang ke rumah orang tua saya di Bogor, mumpung adek saya juga lagi pulang ke bogor bersama anak-anaknya, jadilah rencana dadakan ini langsung direalisasikan. Kami di sini, yaitu saya beserta ketiga anak saya, adek saya, Nia, beserta kedua anaknya dan kedua orang tua saya.  Kenapa judulnya niat banget?????

Continue reading Cimory Oh Cimory, Akhirnya!

Tante & Ponakan … (5)

pic-tante-dan-ponakan

Berhasil…berhasil..berhasil

Minggu ceria. Saatnya bersantai ria. Saatnya leyeh-leyeh. Saatnya bisa bangun siang. Saatnya mandi bisa sedikit siangan. Saatnya tidak berkejaran dengan waktu hanya untuk menghindari macetnya jalanan. Saatnya nonton tivi seharian. Saatnya baca komik sesuka hati. Hari minggu yang selalu gue tunggu. Hehehe

Hari menjelang siang dan gue masih aja di tempat tidur, nyelesein tontonan gue dari tadi malem di laptop. Ihiiiy drama korea yang lagi nge-hits. Nge-hits bagi gue sendiri. Hahahaha.

Continue reading Tante & Ponakan … (5)

Kapal-kapalan

kapal-1Lama. Sudah lama saya mencari mainan yang satu. Tapi, saya tidak menemukannya di Mataram, Lombok. Begitu juga suami saya. Kami tidak pernah menemukan mainan yang satu ini dijual di kota Mataram. Entah kami yang tidak tau tempat jualnya, entah memang tidak ada yang jual mainan ini di Mataram.

Continue reading Kapal-kapalan

Sol Sepatu Langganan

sol sepatu 2.jpg

Belajar itu sederhana. Belajar itu bisa kapan aja. Belajar itu bisa dimana aja. Belajar itu bisa apa aja. Dan belajar itu bisa kepada siapa saja.
Kadang enggak salah juga kalo banyak yang berujar “ada harga ada kualitas”. Pengen barang bagus, tentu harganya juga enggak murah dong alias mahal. Hehehe. Dan saya hanya bisa mengelus dada melihat barang yang baru berumur beberapa hari saja di rumah namun sudah minta direparasi alias diperbaiki. Huft!

Continue reading Sol Sepatu Langganan