Tante & Ponakan ….(2)

pic-tante-dan-ponakan

CELETUKAN PERTAMA

Setelah menikah kak Dhisa masih tinggal bareng sama bapak dan ibu gue. Anggota keluarga di rumah orang tua gue jadi nambah satu, yaitu suami kak Dhisa yang biasa gue panggil mas Indra.

Enam bulan setelah menikah, kak Dhisa hamil dan 38 minggu alias sembilan bulan berikutnya kak Dhisa melahirkan. Keponakan gue yang pertama seorang bocah laki-laki. Lahir bulan April 2011 dengan bobot 3,5 kg. Dengan lahirnya bayi mungil yang tidak mungil ini  gue resmi menjadi seorang tante alias auntie alias anti. Yup, by request gue minta dipanggil anti Tisha. Sok keren banget yak dipanggilnya kayak orang-orang bule itu, auntie. Ah tapi gue menulisnya dengan anti aja. Biar simple.

Ponakan gue yang unyu-unyu ini diberi nama Aldiano oleh orang tuanya yang tidak lain kak Dhisa dan mas Indra.  Rambut Al hitam dan lebat. Setelah diberi izin oleh dokter, baby Al-begitu kak Disha memanggil anaknya, dibawa pulang ke rumah bapak dan ibu gue. Bapak gue yang enggak punya anak laki-laki tampak antusias sekali menyambut kedatangan baby Al ke rumah. Cucu pertama pula. Lengkap sudah. Daaaaan, anggota keluarga di rumah bertambah lagi, yaitu si unyu-unyu baby Al. Sejak kepulangannya ke rumah, baby Al mampu menyihir semua orang yang ada di rumah dan juga yang datang ke rumah. Semua mata tertuju padanya. Cakep banget dah baby Al. And here the story was just begun.

Satu per satu, saudara, kerabat dan teman-teman kak Dhisa dan mas Indra yang tidak sempat bezuk ke rumah sakit berdatangan ke rumah. Mereka datang silih berganti. Rambut baby Al yang hitam dan lebat membuat orang-orang yang membezuknya gemas.

Belum genap dua minggu baby Al pulang ke rumah, gue udah “kena” aja gara-gara ponakan gue yang tersayang ini. Ceritanya begini. Hari itu hari minggu. Semua komplit ada di rumah. Termasuk gue. Dan siang itu ada beberapa kerabat bapak gue yang datang ke rumah buat bezuk baby Al. Entah bagaimana asal muasalnya tiba-tiba aja ada yang nyeletuk bertanya ke gue:

“Tisha, udah berani gendong Al belom?”

Eh,  hallllooooowwww itu bayi belom genap satu bulan. Jelas dong gue enggak berani gendong. Kalo kenapa-kenapa, entar gue yang kena omel kak Dhisa. Bisa-bisa panjang kali lebar tuh urusan. Gue merutuk dalam hati.

Dengan senyum semanis mungkin gue menjawab “Belom berani, Tante.”

“Siapa tau mau belajar cepet-cepet kan?”

Oh my God, please deh. Not now. Kenapa juga tante gue yang satu ini harus ngomong kayak gitu di depan beberapa saudara. Gue bisa liat dengan jelas beberapa saudara yang tertawa geli. Ada juga yang cekikikan. Plis deh, gue masih SMP gitu. Baru juga mau menjelang SMA. Sekali lagi gue merutuk dalam hati. Seketika mood gue jadi jelek. Huh, sebeeeeel!

Bogor, 28 Agustus 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s