24 JAM SAJA!

gedung
http://site.rsiaummi.com

 

Tidak ada kata lain selain alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Swt atas semua rangkaian peristiwa selama proses lahiran anak ketiga saya ini! Alhamdulillah atas izin Allah jua suami saya bisa melihat  proses lahiran anak ketiganya dari sejak masuk kamar bersalin hingga kelahiran sang bayi mungil. Ketika lahiran anak pertama dan anak kedua, qadarullah keadaan tidak memungkinkan bagi suami untuk mendampingi saya melahirkan.
Terima kasih atas kesabaran dr Arina Indriany SpOG mengawal proses kelahiran hingga membantu ketika lahiran. Tidak lupa juga terima kasih kepada tim bidan yang sampe ganti-ganti shift, bolak balik ngecek keadaan saya dan sibuk bertanya apakah rasa nyeri itu sudah terasa. # hingga rasa bosan menyapa ditanya rasa nyeri melulu.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya proses lahiran ketiga ini akan memakan waktu yang sangat lama, sangat panjang, dan melelahkan, tidak hanya saya tapi juga melelahkan janin yang ada di dalam kandungan. Fuih! How come?????

Tekanan darah yang rendah, anemia, induksi yang enggak mempan hingga pilihan terakhir SC dari mulut bu dokter di saat-saat terakhir menambah warna warni cerita lahiran ini.

SC? Membayangkan ruang operasi saja saya udah keder duluan. Belum lagi membayangkan cerita teman-teman yang melahirkan dengan SC. Pasca SC tidaklah mengenakkan begitu katanya.


(23/7/2016) Setelah menjemput suami di pool damri deket Botani Square, saya, suami, orang tua saya beserta dua anak bujang kecil menuju RSIA Ummi di daerah Empang, Bogor.
Ba’da zuhur. Sebelum menuju kamar bersalin yang terletak di lantai tiga, saya terlebih dahulu cek darah di laboratorium di lantai satu. Sekitar pukul dua siang saya masuk kamar bersalin.

Pembukaan dua. Dari hasil CTG tadi pagi, terlihat rasa mules dan nyeri itu sudah banyak. Namun tidak terasa apa-apa pada saya. Menurut bidan yang memeriksa saya, tingkat ketahanan setiap orang terhadap rasa nyeri itu berbeda-beda.

Sambil menunggu hasil lab, bidan memeriksa kembali detak jantung janin yang ada dalam kandungan saya. Alhamdulillah, semua baik-baik saja.

Hasil lab telah keluar. Hb saya dibawah standar untuk melahirkan. Standar normal itu harus di atas sepuluh. Sedangkan hasil lab menunjukkan Hb saya ada diangka 8,9. Menurut bidan, biasanya akan dilakukan tranfusi darah untuk antisipasi jika melahirkan nanti mengeluarkan banyak darah. Namun bidan tersebut akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dr Arina, dokter yang menangani saya. Alhamdulillah ada opsi lain dari dr Arina. Saya tidak harus tranfusi darah. Namun saya disuruh minum obat penambah darah. Nanti akan dilihat perkembangannya. Sedikit lega.

Waktu terus berlalu. Perlahan pembukaan itu maju. Walau rasa nyeri belum terasa, namun pukul setengah sebelas malam pembukaan itu sudah mencapai pembukaan 6. Saya pun jadi optimis malam ini insya allah anak ketiga saya akan lahir.

Tidak. Ternyata tidak. Waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul dua belas malam. Hari sudah berganti. Harapan saya akan melahirkan anak ketiga saya ditanggal yang sama dengan anak kedua saya sudah pupus. Qadarullah Allah Swt berkehendak lain.

(24/7/2016) sekitar pukul setengah satu malam, bidan kembali masuk dalam ke dalam kamar bersalin saya dan mengabarkan bahwa bu dr Arina menginstruksikan untuk melakukan induksi. Dengan infus. Mendengar kata induksi, seketika bayangan nyeri ketika lahiran anak pertama kembali menari-nari dalam otak saya. Dan yang masih segar dalam ingatan saya adalah teriakan rasa sakit seorang ibu sekitar pukul sepuluh malam tadi. Bidan yang bolak balik ke kamar saya mengiyakan pertanyaan saya apakah ibu itu diinduksi. Teriakan itu terdengar hingga ke kamar saya yang membuat suami saya menjadi heran kenapa melahirkan sampe seperti itu. #Huft dia gak tau sakitnya melahirkan itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata saking sakitnya. Saya dan suami sepakat menolak opsi induksi tersebut. Saya mau menunggu pembukaan jalan dengan sendirinya seperti lahiran anak kedua saya.

Waktu terus bergulir. Mendekati dini hari. Bidan mengecek secara berkala pembukaan dan juga detak jantung janin. Pembukaan masih tidak maju dan detak jantung janin di atas normal. Bidan berkonsultasi lagi dengan dr Arina tentang keadaan saya.

Pukul setengah lima pagi, bidan kembali masuk kamar saya. Seperti biasa, mengecek keadaan saya dan janin. Masih sama. Setelah berkonsultasi dengan dr Arina, saya harus diinduksi karena pembukaan tidak jalan. Saya tidur tidak tidur semalaman, dan rasa lelah mulai menyapa. Ya sudah, saya dan suami akhirnya sepakat untuk mengikuti instruksi dokter. Selang infus terpasang di tangan kiri saya. Setetes demi setetes cairan induksi itu mengalir.

Kabar gembira, sekitar pukul enam lebih detak jantung janin kembali normal. Lega.

Rasa nyeri tak kunjung datang. Saya terkejut ketika pukul sembilan pagi dr Arina berkunjung. Padahal hari ini adalah hari minggu.#jadi terharu dengan dedikasi bu dokter satu ini. # Salut.

dr Arina memeriksa pembukaan. Betapa terkejutnya saya ketika bu dokter berkata bahwa pembukaan menjadi lima. Oh how come???

Dengan senyuman dan wajah yang tenang, dr Arina menjelaskan bahwa pembukaan di atas enam itu bisa saja kembali menutup jika sudah terlalu lama. Biasanya pembukaan menuju tujuh hingga sepuluh itu berlangsung cepat. Tidak seperti pembukaan dua atau tiga yang bisa memakan waktu lama.

Pembukaan enam sudah dari tadi malam. Dua jam tidak ada kemajuan. Oleh karena itu pukul setengah satu malam disarankan untuk induksi. Jika ditunggu pun pembukaan itu tidak akan maju. #yang membuat saya lagi-lagi salut dengan bu dokter satu ini ketika ia berujar “saya menunggu keputusan ibu hingga pukul dua pagi. Tapi ternyata ibu gak mau. Tadinya saya mau kasih induksi yang bisa cepet keluar, supaya janin tidak lelah. #terharu. Bu dokter jadi ikut begadang seperti saya. #walau sudah mulai lelah saya masih sempat protes kenapa tadi malam tidak diberitahu informasi tentang pembukaan tidak akan maju. Huft!

dr Arina juga menjelaskan penyebab lelahnya janin. Sederhananya seperti ini kata bu dokter. Jika kita membuka pintu namun setelah berusaha berkali-kali pintu tersebut tidak terbuka, maka kita akan lelah dan frustasi bukan? Begitu juga dengan janin. Dari tadi malam ia berusaha membuka jalan, tapi hingga pukul tiga lebih tidak juga berhasil. akhirnya berimbas kepada kelelahan. # hoooo baru saya tau. #masih harus banyak belajar. Hehehe.

Masih dengan senyumannya, dr Arina menjelaskan bahwa ia akan menaikkan dosis induksi karena dengan dosis sebelumnya tidak berpengaruh. Jika dengan dosis baru ini rasa nyeri masih belom menyapa, tidak ada pilihan lain selain SC karena sudah terlalu lama. Usaha terakhir ini karena detak jantung janin sudah kembali normal. # saya menelan ludah. # Saya pasrah. Dalam pikiran saya yang penting segera cepat lahir.

Usaha terakhir ini diobservasi selama empat jam yang artinya hingga pukul satu siang. Jika hingga pukul satu siang masih sama tidak ada kemajuan, maka pilihan terakhir adalah SC. #hiks. Senyuman bu dokter telah berlalu. Saya bisa melihat cairan induksi itu menetes lebih cepat.

Jarum jam terus berputar. Kini waktu menunjukkan pukul sepuluh kurang sepuluh. Mules pertama mulai saya rasakan. # Dalam hati berdoa semoga ini adalah pertanda cairan induksi mulai bekerja. Rasa nyeri mulai teratur per sepuluh menit sekali. Saya masih olahraga ringan di samping tempat tidur. Berdiri, jongkok, berdiri lagi, jongkok lagi.

Rasa mules dan nyeri yang hebat mulai saya rasakan ketika waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Fuih induksi itu benar-benar bekerja dengan sempurna. Tidak ada lagi olahraga di samping tempat tidur. Saya terkapar di atas tempat tidur. Menahan setiap nyeri. Sepuluh menit sekali rasa nyeri teramat sangat itu menyapa. Suami saya hanya bisa pasrah ketika saya memegang dengan sangat kuat tangan kirinya setiap ada rasa nyeri. Pembukaan terus berjalan. Di dalam hati saya sedikit lega dengan rasa mules ini. Lupakan SC. Waktu sudah melewati pukul satu siang.

Mendekati pukul dua siang akhirnya dr Arina kembali muncul dihadapan saya. Beberapa bidan turut mendampingi dr Arina. Ruang bersalin menjadi penuh. Bu dokter terkejut melihat wajah saya yang sudah pucat. Dengan senyumannya dia meminta saya tiduran dengan posisi kaki siap mengejan. dr Arina memeriksa pembukaan dan kemudian waktu yang saya tunggu-tunggu terucap dari mulut dr Arina: “Sudah pembukaan sepuluh, kalo ingin mengejan sudah boleh ya, Bu.” Kontraksi itu mendadak hilang. Lenyap. Saya rasanya tidak kuat untuk mengejan. dr Arina melihat botol infus yang masih menggantung di sebelah kiri saya, kemudian bertanya kepada bidan apakah itu cairan induksi atau cairan suplemen makanan. Bidan menjawab bahwa itu masih cairan induksi. dr Arina meminta cairan infus itu diganti dengan cairan suplemen makanan. Semua serba cepat.

Tidak lama kemudian rasa nyeri itu datang kembali. Saya mulai mengejan. Bu dokter dan tim bidannya mengingatkan saya tentang posisi kepala supaya melihat ke bawah. Saya ikuti peringatan itu. Alhamdulillah, akhirnya suara tangisan bayi itu terdengar pada pukul 14:05 WIB. Alhamdulillah kali ini cukup satu kali mengejan. Seorang bayi perempuan. Sebelum dibersihkan, bidan terlebih dahulu memperlihatkan kepada saya bayi mungil yang berjuang 24 jam untuk keluar dari rahim saya.  Rasa sakit itu hilang dalam seketika. Welcome my baby girl!

Bogor, 19 Agustus 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s