Sprei Baru

(27/05/2016) “Kreativitas” duo anak bujang kecil saya semakin meningkat saja. Kali ini yang menjadi sasaran kreativitas mereka adalah sprei.

Sebetulnya sprei bukanlah sasaran baru. Sudah lama sprei menjadi salah satu mainan mereka. Namun biasanya hanya sampai pada tahap mencoret-coret sprei dengan pulpen, krayon, pensil warna atau spidol. Berkali-kali mengingatkan namun tiada hasil. Akhirnya saya pasrah. Ya sudahlah.

Kali ini berbeda. Duo anak bujang dengan kompaknya menggunting sprei yang memang sudah robek sedikit karena nyangkut dibesi ketika dijemur. Sprei yang digunting pun panjang. Selesai urusan gunting-menggunting sprei, duo anak bujang dengan bangganya menunjukkan hasil karya mereka di sprei kepada saya.

“Bunda, mas Adha udah bisa menggunting. Pegang gunting sendiri.”

Seketika amarah naik ke ubun-ubun ketika melihat sprei yang telah digunting sana-sini. Namun ketika pandangan mata ini beralih kepada dua wajah kecil kesayangan, seketika rasa amarah tersebut lenyap. Kalimat istigfar meluncur dari mulut saya.

“Kenapa spreinya digunting, Nak?”

Adha, anak bujang saya yang besar dengan lugas, tegas dan mantap menjawab “Tadi spreinya itu udah sobek sedikit Bunda. Trus mas Adha lagi belajar menggunting. Spreinya digunting deh. Udah bisa mas Adha, Bunda.”

“Nak, spreinya sobek sedikit bukan berarti boleh digunting sana sini. Kan sayang spreinya jadi gak bisa dipake.”

“Udah terlanjur e, Bunda. Enggak apa-apa ya?”
Saya menelan ludah. Sudah beberapa kali kata-kata sudah terlanjur menjadi senjata Adha.

“Dek Rama ikut belajar menggunting jugakah?”

Wajah mungil itu semakin sumringah. “Iya, Bunda.”

Saat itu juga saya berpikir keras bagaimana menjelaskan supaya duo anak bujang ini mengerti. “Alhamdulillah, anak-anak Bunda semakin pinter menggunting. Tapi lain kali kalo mau gunting menggunting di kertas yang udah bunda sediain aja ya. Itu kertasnya masih banyak.” Saya menunjuk ke arah tumpukan kertas yang memang sengaja saya sisihkan untuk mainan duo anak bujang ini. Mereka pun menganggukkan kepala. “Maaf ya Bunda, spreinya jadi enggak bisa dipake.” Ujar Adha.

“Iya, Nak.” Ujar saya sambil memeluk kedua bocah kecil ini.

Tragedi pengguntingan sprei membuat saya harus memesan sprei baru. Saya bukan tipe emak-emak yang hobi shopping banyak-banyak peralatan dan perlengkapan rumah. Hampir semua serba seadanya. Yang penting ada satu atau dua untuk ganti. Hehehe.

Ciri khas emak-emak sejagat raya jika ingin membeli sesuatu yaitu menghitung ketersediaan anggaran rumah tangga versus keinginan. Alhamdulillah ada sedikit rezeki untuk membeli sprei dengan bahan yang tidak akan diprotes oleh Adha. #Ribet dah bocah Kecil ngerti bahan yang enak dan adem.

Saya berselancar melihat satu persatu koleksi Adiba Bedding di fb. Senangnya banyak sekali ketersediaan motif. Dari motif bunga-bunga, motif salur dan kotak dengan perpaduan warna nan cantik. Dan tentu saja juga ada motif-motif sprei untuk kamar anak. Pilihan kain spreinya pun beragam. Katun, katun catra, katun jepang, sateen, sutra dan lain-lain. Jadi pengen ngeborong. Hehehe

Saya pribadi lebih suka yang sederhana namun kelihatan cantik. Motif salur dengan warna yg lembut menjadi pilihan saya. Setelah puas berselancar di fb Adiba Bedding, saya ber chit chat ria dengan Ibu Anne Maiza, ownernya Adiba Bedding. Pilihan motif sprei akhirnya jatuh ke motif yang dikirim via messenger whatsapp. Motif yang baru akan launching di fb. Hehehe..

Lokasi Adiba Bedding ada di BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. sedangkan saya berdomisili di Mataram, Lombok. Untuk menyiasati si ongkir, saya minta spesial request si sprei dititipkan di rumah orang tua saya. Kebetulan inyik (kakek) nya Adha akan ke Mataram. Jadi bisa sekalian dibawa. Hemat ongkir #Lagi-lagi ciri khas emak-emak sejagat raya keluar. Wkwkwkw

(11/6/16) Taraaaaaa tanggal  ini inyik Adha mendarat di bandar udara BIL, Lombok. Tentu saja tidak lupa dengan sprei pesanan. Hehehe

Ini dia si sprei baru. Sprei bahan katun jepang dengan  motif salur nan cantik. Saya suka perpaduan warnanya. Sederhana tapi oke banget.

Duo anak bujang request untuk langsung dicoba. Tentu saja saya katakan tidak karena sprei baru diganti. Sayang, jadi banyak cucian. #alasan emak-emak banget. Hahaha. Mendengar penolakan saya, anak bujang kecil berceloteh “Nanti sprei ini Rama kotorin ya Bunda. Besok pake sprei baru.”

Perkataan Rama menjadi kenyataan. Entah kenapa ia ngompol di kasur malam itu yang memaksa saya untuk mengganti sprei di pagi harinya. Tentu saja saya sudah tidak bisa mengelak. Sprei baru pun dibentangkan. Fuih! Padahal udah jarang banget kasur kena ompol bocah. Hiks.

2016-06-12_23.57.21 (1)

Setelah sprei selesai dipasang, Adha berkomentar “Spreinya enak Bunda. Adem. Enggak kayak sprei Bunda yang warna oren. Panas. Nanti pesen sprei kayak gini lagi ya, Bunda” #aaarrggghhh dua sprei ini memiliki harga bagaikan langit dan bumi. Tentu saja beda rasanya!

Yuk, yang lagi cari sprei, ada banyak motif cantik dan lucu di fb Adiba Bedding Atau hubungi Adiba Bedding di 085693738385.
Kalo penasaran sama toko dan lihat-lihat koleksi lengkapnya bisa langsung meluncur ke Ruko Sektor 1.2 blok RC 4 no 20 – Bumi Serpong Damai (BSD).

Ujung-ujungnya: happy shopping emak-emak 🙂

Bogor, 22 Juni 2016

Advertisements

2 thoughts on “Sprei Baru”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s