Potret Lain Indahnya Gili Nanggu

(8/3/2016) Tahun ini genap empat tahun “transmigrasi” pindah ke pulau Lombok mengikuti suami yang bekerja di provinsi NTB. Mengawali tahun 2016 ini, perjalanan menyusuri indahnya pulau Lombok terus bergulir. Kaki ini terus melangkah walau sedang hamil muda. Ups! Untuk kedua kalinya mengunjungi pulau kecil nan cantik di sisi barat pulau Lombok, Gili Nanggu.

Tidak ada lagi renovasi bangunan seperti kedatangan saya pertama kali ke pulau ini. Pulau ini masih cantik saja. Pasir putih nan halus, riak air laut nan tenang, pantai nan landai dan tak ketinggalan pohon-pohon yang tumbuh semakin tinggi dan rindang. Adem.

IMG-20160310-WA015
Gili Nanggu dari kapal

Tak lama setelah menjejakkan kaki di pulau ini, meletakkan tas di salah satu berugak, kedua anak bujang kecil saya langsung minta ganti pakaian untuk bermain air di tepi pantai. Tanpa perlu komando, setelah itu mereka berlari ke tepi pantai. Wajah-wajah ceria khas anak kecil tersirat dari gelak tawa mereka. Inyik yang turut serta dalam kunjungan kali ini mengikuti langkah kedua bocah kecil bermain air. Tidak lupa membawa roti untuk memberi ikan makan. # Pantai di Gili Nanggu ini landai dengan arus bawah yang cukup tenang. Cukup aman untuk anak-anak.

IMG-20160308-WA005
Ikan berebut makan

Jangan tanya posisi saya di mana ya. # Duduk di berugak, menikmati angin pantai yang sepoi-sepoi, sambil ngemil khas ibu hamil dan tentunya sambil memperhatikan anak-anak yang asyik bermain dengan kakek dan bapak mereka. Tak ketinggalan oom mereka juga turut serta. Namun tak lama kemudian mereka pindah ke sisi lain Gili Nanggu.

Sendirian di berugak tidak membuat saya mati gaya. Beberapa bule yang hilir mudik melempar segaris senyuman. Tidak lupa juga jepret sana jepret sini, mengabadikan keindahan Gili Nanggu. Tak lama berselang, dahi ini mengkerut melihat satu rombongan mendekat ke berugak yang saya duduki. Semakin mendekat, saya seperti mengenali satu sosok. Ah saya tidak salah lihat. Mata ini masih melihat dengan baik. Salah satu dari rombongan tersebut adalah papanya Rani, orang tua teman anak saya di sekolah, suami dari mbak Andy alias mbak Tutut, seorang blogger sejati Lombok. # colek mbak Tutut di  www.andyhardiyanti.comDari wajahnya bisa saya tebak kalo ia sama tekejutnya dengan saya. Hahaha. # Ups, jadi ketahuan kalo anak saya, Adha, bolos sekolah hari ini. Hehehe.

Percakapan pun dimulai, tapi enggak lama. Papa Rani dan rombongannya pindah ke sisi lain pulau. Tersisa satu bapak yang tetap duduk di berugak. Ternyata bapak tersebut adalah salah satu warga Sekotong yang mencari rezeki dari menyewakan kapal kepada wisatawan-wisatawan yang hendak berkunjung ke Gili Nanggu dan sekitarnya. Seperti hari ini, ia menyewakan kapalnya kepada rombongan papanya Rani.

Sambil menunggu tamunya, bapak ini mengajak saya mengobrol ngalor-ngidul. Cerita bapak itu sungguh di luar bayangan saya sebelumnya. Ia bercerita tentang potret lain dari Gili Nanggu yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh saya. Ah, jangan bayangkan sebuah cerita nan indah. # Miris.

Obrolan dimulai dari ikan-ikan yang sering diberi makan oleh para wisatawan yang datang ke Gili Nanggu ini. Menurut bapak itu, jumlah ikan di Gili Nanggu menurun dibanding dulu. Ikan-ikan tidak sebanyak dulu lagi, bahkan di beberapa spot snorkling karang-karang ada yang rusak. Walau ada juga yang ditanami kembali.

Salah satu jenis ikan yang populasinya berkurang menurut bapak ini adalah populasi ikan badut. Saya agak bingung ikan apa yang disebut ikan badut dan sepertinya bapak ini menangkap kebingungan di wajah saya. Hahaha. Ia menyodorkan hapenya, menunjukkan gambar ikan yang disebut ikan badut. Ternyata oh ternyata yang disebut ikan badut adalah ikan berwarna oren yang saya tahu namanya adalah ikan nemo. Hehehe.

Tidak hanya itu, bapak tersebut juga bercerita tentang keluarganya. Sudah tidak terhitung berapa kali ia bolak balik mengantarkan tamu pelesiran ke Gili Nanggu dan sekitarnya, namun satukalipun ia belum pernah mengajak anak istrinya untuk sekedar rehat sejenak dari kerasnya hidup, menikmati indahnya Gili Nanggu dan sekitarnya. Tidak hanya bapak itu dan keluarga yang tidak pernah mengajak keluarga mereka jalan-jalan ke Gili Nanggu, namun juga sebagian besar warga Sekotong lainnya. Saya terhenyak mendengar cerita sang bapak. Menarik nafas dalam-dalam. Benarkah cerita ini? Jarak Gili Nanggu ini tidaklah terlalu jauh dari pelabuhan Tawun, pelabuhan terdekat untuk menyeberang ke Gili Nanggu. Bahkan dari pelabuhan ini keindahan Gili Nanggu ini dapat dinikmati. Putihnya pasir dan hijaunya pepohonan yang tumbuh di Gili Nanggu ini dapat terlihat dengan jelas. Tapi jarak yang dekat bukan berarti pasti pernah berkunjung. Atau menikmati indahnya Gili Nanggu ini dari kejauhan sudah cukup bagi mereka? Entahlah…

08032016061
Gili Nanggu dan Gili Tangkong dari pelabuhan Tawun

Mataram, 22 Mei 2016

Advertisements

4 thoughts on “Potret Lain Indahnya Gili Nanggu”

    1. Yuk pelesiran ke Gili Nanggu….salam kenal juga mbak. terima kasih sudah jalan- jalan ke blog saya dan meluangkan waktu untuk baca. Tunggu tulisan saya di gili-gili berikutnya yang gak kalah wow hehehe

      Like

      1. Hehehhe, iyaa perbanyak yaa artikel tentang wisaya di Lombok. Saya ada wishlist pengen ke Lombok nih tahun ini, makin banyak referensi makin tau kan harus ke mana aja 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s